Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

Semangat Kerja lewat Daun Musa paradisiaca!

 

    Cari uang untuk kebutuhan hidup sekarang agak susah. Kalau cari uang untuk gaya hidup, hmmm apalagi...sangat susah. 'Agak' dan 'Sangat' itu dua kata yang berbeda. Maknanya pun tak sama. Walaupun hampir mirip, tapi jelas keduanya punya tingkatan yang berbeda. 


     Oke, Kali ini aku mau berbagi cerita soal rutinitas mingguan yang biasa aku lakukan. Sesuai dengan judulnya, 'Semangat Kerja Lewat daun Musa Paradisiaca' . Maaf kalau penulisan nama ilmiahnya kurang tepat. Seingatku ya seperti itu. Sudah jelas kalau daun pisang inilah yang jadi alternatif tambahan untuk uang saku ku. sepuluh hingga dua puluh ribu rupiah yang aku dapat untuk 4 sampai 6 gulungan daun pisang. 

    Daun pisang muda maupun daun pisang tua, semuanya dibutuhkan. Memangnya buat apa sih? Jadi, daun-daun ini digunakan sebagai alas piring bambu untuk salah satu warung makan di daerahku.
    Bisa dilihat, pada gambar di atas, itulah warung makan yang biasa menggunakan daun pisang sebagai alas piring bambunya. Di tempatku, kami biasa menyebutnya 'Angkringan'. 
    Aku bersyukur karena tanteku bekerja di sana sebagai penjaga dan tukang masak nya. Soal rasa, tidak usah diragukan lagi. Super duper enak! Apalagi rasa gudeg nya yang khas. Tidak kalah dengan gudeg asli Yogyakarta. 
    Permintaan daun pisang memang tidak menentu, tergantung pada intensitas pengunjung warung makan. Semakin ramai pengunjung warung, semakin cepat habis stok daun pisang, sebaliknya, jika pengunjung warung tidak terlalu banyak seperti biasanya, maka stok daun pisang yang ada tetap utuh dan aku tidak perlu mencari daun pisang lagi.

    Biasanya aku dibantu oleh ibu, namun kemarin aku melakukan semuanya sendiri, dari memotong daun pisang, memisahkannya dari batang daunnya, sampai menyiapkannya ke dalam plastik. Sama seperti pekerjaan pada umumnya, ada bagian yang menantang dan ada bagian yang menyenangkan. Bagian menantangnya adalah saat aku harus masuk ke bagian rerumputan yang paling dalam, bagian yang lembap , dengan risiko ular weling atau ular belang kuning beracun yang bersarang di sana. Bagian yang menyenangkan tentu saja saat aku mendapat upah dari hasil pencarianku. Rasanya senang sekali. Puji Tuhan. 
    Apapun akan aku lakukan untuk bisa membantu meringankan beban ekonomi keluargaku, selama itu baik dan positif. Satu hal yang aku peraya, bahwa 'Tuhan itu selalu dekat dan ada pada orang-orang yang mau berusaha'.
    Itulah sedikit cerita dariku, semoga bisa menginspirasi dan menyemangati kawan blogger sekalian. Semangat anak muda!

Continue reading Semangat Kerja lewat Daun Musa paradisiaca!

Serba-serbi Perkuliahan

 


    Selamat Hari Minggu dan Selamat Hari Kasih Sayang. Tuhan memberkati. Senang  dan bersyukur banget, karena hari ini masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup, belajar, dan berkarya. Kadang masih tidak menyangka, kebaikan dan berkat Tuhan yang ada buat kehidupan ku sampai pada hari ini.  Aku bisa ada sampai saat ini semua murni karena pertolongan Tuhan. 

    Tidak terasa, sudah jalan di semester 2, perkuliahan ku. Waktu yang terasa sangat cepat dan seolah-olah terjadi begitu saja. Kalau boleh cerita soal perjuangan dan keajaiban yang terjadi dan berjalan selama ini, aku rasa tidak akan ada habisnya. Bagaimana seorang anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, dengan berbagai keterbatasan yang ada, berusaha mencari secercah cahaya kecil untuk masa depannya. Seorang anak yang tidak mau menyerah begitu saja pada keadaan hidupnya. Seorang anak yang percaya dan selalu memeluk erat mimpi-mimpinya. Seorang anak yang hanya punya keyakinan dan pengharapan pada Penciptanya. 

    Ya, itulah aku. Aku berterima kasih kepada Tuhan, walau dengan segala tantangan dan hambatan yang ada di depan, aku masih bisa bertahan sampai sejauh ini. 

    Kuliah yang awalnya hanya sekadar kata-kata dalam untaian doa dan angin mimpi, pada akhirnya bisa terwujud lewat pertolongan Tuhan dari tangan-tangan baik orang yang murah hati. Dari kebimbangan yang ada, Tuhan  permudah dengan pilihan-Nya. Mungkin aku pikir awalnya tidak sesuai dengan pilihan hatiku, tapi aku tahu, inilah Pilihan-Nya. 



    Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga atau yang dikenal sebagai UKSW, ternyata jadi tempat pilihan Tuhan untuk diriku menimba ilmu. Dari sekian banyak pilihan yang ada di depan, ternyata Tuhan sudah sediakan. Satu tempat terbaik, yang akhirnya aku sadar, bahwa Tuhan melihat lebih jauh ke depan, daripada kita yang sekadar melihat. 



    'Pendidikan Fisika' jadi jurusan terbaik yang bisa ku ambil. Dari situ lah, aku bisa merasakan bangku kuliah tanpa beban biaya sedikitpun. Aku sadar, bukan jurusan yang menentukan kesuksesan, tapi bagaimana kita menyerap dan mengelola ilmu yang diberikan, untuk meningkatkan kapasitas diri kita. 

    Setelah jalan efektif 6 bulan masa perkuliahan ini, aku banyak belajar soal manajemen, disiplin waktu, dan tanggung jawab. Semester 1 kemarin jadi masa pengenalan dan penyesuaian buat ku. Aku berterima kasih kepada Tuhan Yesus yang sudah memberikan Bu Marmi Sudarmi dan Om David Pakili menjadi orang tua keduaku. Berkat Tuhan melalui merekalah yang membuatku bisa mengecap rasanya bangku kuliah. 

    Indeks Prestasi di semester awal puji Tuhan, pas 3,00. Aku berharap, di semester kedua ini, indeks prestasi ku bisa meningkat. Tuhan memberkati kawan bloger semua. Peace.

Continue reading Serba-serbi Perkuliahan

Day 37 ( Senyum )


   Senyum, kata orang itu ibadah. Jarang senyum ntar dikira pemarah. Keseringan senyum juga jadi masalah. Terus gimana dong? Itu semua kembali ke diri kita masing-masing.
   Aku adalah tipe orang yang selalu mengandalkan senyum. Lagi dimarahin atau diomelin, senyum. Lagi sedih, ditanya orang, senyum. Orang nyapa di jalan, gak kedengaran dia ngomong apa, aku juga cuman senyum.
   Sampai-sampai aku baru sadar bahwa, selama ini kalo orang yang gak ku kenal bertanya sesuatu, tapi aku gak mudeng sama pertanyaannya, yang kulakukan tetap sama hanya tersenyum. "Hadeh, jadi selama ini kamu kemana riko?" Hehehehe...
   Entah kenapa ya, mungkin karena udah kebiasaan dari kecil. Sampai-sampai tetangga orang tuaku dulu di Kelurahan Mendawai, Pangkalan Bun, kalo ketemu aku, pasti langsung bilang gini "Kalo riko ni baya senyum tuam, bejihing-jihing terus". Lha, terus aku bisa apa, oleh sudah terbiasa. Hmmm...
   Ada juga yang meresepon kebiasaan ku ini dengan pesan yang positif. "Wah, anaknya murah senyum ya pak" tutur seorang kenalan dekat ayahku. Puji Tuhan.
Tapi, gak selalu kebiasaan ku ini berbuah manis. Kadang senyuman ini gak selalu terbalas dengan senyuman. Kadang cacian, omelan, atau sedikit masukan. Yah, biasa lah.
   Kebiasaanku ini sungguh berkebalikan 180 derajat, dengan kebiasaan ayahku. Ayahku memang orang timur, lebih tepatnya orang Ambon, Maluku. Cerita yang kudengar dari keluargaku sih, kalo di kampung oma opaku, misal ada tetangga yang mau nyampaikan pesan ke tetangga sebelah rumahnya, karena jarak rumah di desa yang berdekatan, jadi tinggal buka jendela samping, dan ngomong dengan nada tinggi. Kalo kita masyarakat perkotaan, melihat kebiasaan itu pasti sudah kaget dan mengira bahwa hal itu sangat kasar. Tapi sebenarnya gak. Itulah, indahnya perbedaan. Kita bisa belajar banyak hal dari perbedaan yang ada.
   Nah, setelah ku pikir-pikir, benar juga ya. Nada bicara ayahku juga sangat tinggi. Aku aja yang mendengarnya agak ngeri. Apalagi kalo bapak habis bangun tidur. Waduh, gak kebayang deh rasanya. Takut.
   Nah, balik lagi ke masalah senyum. Senyuman itu bisa jadi andalan terakhir buat nguatin kita lo. Yakin deh. Sesusah dan sesulit apapun kondisi kita, ingatlah akan Tuhan dan kenangan indah yang udah pernah kita alami. Otomatis, kita bisa beralih ke wajah senyum. Kalo emang gak ada kenangan yang indah dalam hidup kita, gak usah khawatir, duduk diam dan coba renungin, Tuhan selalu ada buat kita.
   Tergantung bagaimana kita bisa memaknai dan memahami hakikat garis senyum di pipi. Senyum gak selalu soal senang kok, senyum bisa juga menggambarkan kesedihan, kesepian, atau bahkan kerinduan.
   Intinya, yang penting adalah selalu berusaha dan senantiasa tersenyum dalam segala hal. Hati boleh cemberut, tapi wajah harus tetap mancarin sisi terbaiknya. Dengan begitu, hati juga lama kelamaan akan luluh, dan ikut tersenyum.
   Iya senyum...
 
 
Continue reading Day 37 ( Senyum )

Day 36 (Aku mau, kamu tau, aku mau kamu)


   Syalom, puji Tuhan... Hari ini kembali kita patut bersyukur karena masih diberi waktu dan kesempatan oleh Tuhan buat menghirup udara segar. Segala yang terjadi biarlah boleh terjadi karena kehendak Tuhan. Kita manusia cuman bisa terus kuat, berusaha, dan mencoba menghadapi serta menerimanya.
  By the way,  hari ini tepat 12 hari saudara kita yang muslim menjalankan ibadah puasa. Semoga lancar sampai hari raya idul fitri. Amin.
   Kita mulai ke topik blog hari ini ya. Masih dalam ruang lingkup cinta. Haduh, ngomongin masalah cinta emang gak ada habis-habisnya. Mengutip kata-kata dari drama korea "The Doctors" Cinta itu sebenarnya dirasakan oleh otak, bukan oleh hati" jadi sebenarnya selama ini, sebagian besar dari kita salah beranggapan bahwa cinta itu awalanya dari mata turun ke hati, padahal harusnya statement yang benar itu cinta dari mata naik ke otak.
   Hati itu dalam ilmu biologi adalah salah satu organ tubuh manusia yang berperan dalam proses detoksifikasi atau pengeluaran racun dalam tubuh. Jadi, kita bisa nyimpulin bahwa benar rasa cinta itu dikendaliin oleh otak bukan hati. Wajar sih, kalo manusia bilang gak bisa hidup tanpa cinta, tanpa cinta dunia terasa hampa. Ya, benar. Karena otak itu pusat pengendali segala aktivitas tubuh kita. Dan disitu jugalah rasa cinta dikendalikan.
   Kembali ke topik ya. Aku mau nanya nih. Pernah gak kalian menyimpan rasa sama seseorang, tapi kenyataan gak memungkinkan kalian buat saling kenal. Mugkin hanya sebatas tau, gak kenal dekat. Jadi rasa yang timbul, otomatis berubah jadi sikap seolah-olah kagum sama sosoknya. Padahal sejatinya pikiran kita gak bisa bohong soal itu. Masalah ini umumnya mungkin dialami oleh anak-anak dan remaja SMP/SMA atau bahkan anak kuliahan.
   Untuk masalah cinta, jujur mohon maaf, aku gak suka sama tipe pacaran yang alay, ngasih kode-kodean, kamu gak peka lah, kurang peka, atau tikungan tajam dan apalah itu. Gimana ya, menurutku itu cuman cara yang terkesan basa basi untuk masalah percintaan.
   Yang paling baik adalah kalo kita suka sama seseorang, ya ngomong aja kalo kita suka. Gak usah pake kode-kodean. Dan gak usah pacaran. Itu lebih baik. Percaya deh. Emang banyak kasus yang kuliat sendiri di sekitar, bahwa keliatannya orang yang pacaran itu bahagia banget. Ya emang, tapi gak semua orang bisa ngalamin dan ngerasa hal yang sama.
   Dan mungkin benar, lebih baik kalo mau mengenal seseorang lebih dekat, kenali dulu Tuhannya dan orang tuanya. Jangan langsung nyosor ke orangnya. Dan kalo kita emang kebelet buat pacaran, jalanin aja Hubungan Tanpa Status. Biarin, yang penting kita gak terikat, dan ngerasa dikekang. Jadi, kita masih bebas buat jalan sama siapa aja. Kalaupun pada akhirnya kita gak ditakdirkan sama dia, gak usah khawatir. Masih ada Tuhan. Tuhan gak pernah tidur. Masalah jodoh, rejeki, dan umur udah Tuhan atur.
   Biarlah kita (laki-laki) tetap jadi pengagum rahasianya dia. Yang setuju syukur, yang enggak, juga tak apa. Toh sulit memang menyatukan pikiran semua orang. Yang penting apa yang kita pikirkan sejalan dengan kehendak-Nya. Dan satu hal yang kupelajari sebagai pengalaman adalah, kalo kita kagum sama seseorang, ajaklah dia berfoto. Kelak, kalo memang orang itu berubah, kita gak usah khawatir, karna fotonya gak akan berubah. Pandangi aja fotonya, pasti kita bakalan senyum-senyum sendiri.
   Mungkin rasa suka, kagum, dan kemauan kita untuk memiliki dia itu cuman sebatas nafsu duniawi. Bukan cinta yang hakiki. Cinta itu sejatinya bersumber daripada kapasitas diri bukan tampilan luar diri.
   "AKU MAU, KAMU TAU, AKU MAU KAMU"
judul blog ini kuambil dari film horror bertema zombie dari Indonesia. Judulnya Gen Z. Coba deh tonton.

#bloginitidakbermaksudapaapa
#hanyaberekspresi
#hanyaberpendapat

 
Continue reading Day 36 (Aku mau, kamu tau, aku mau kamu)

Day 35 ( Baper..., dikurangin bahkan dihilangin)

 
   Syalom, apa kabar kawan-kawan? Semoga kita semua hari ini selalu dalam keadaan sehat, amin. Sakit itu gak enak banget ya, apalagi buat orang yang penyakitan kaya aku. Capek, dikit-dikit sakit, dikit-dikit sakit.
   Hmmm...ngomongin masalah sakit ni, beda  banget sama yang namanya baper. Seperti syair lagu "Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati" . Menurut kalian gimana? Setuju gak dengan pernyataan diatas? Kalo aku sih enggak. Gak ada perbandingan yang lebih baik diantara kata sakit. Namanya sakit itu gak ada orang yang mau dan sedikitpun ngalamin hal itu.
   Pertanyaanya..., Seberapa sering kalian sakit? Atau seberapa sering nih kalian baper? Lebih seringan mana... Sakit atau Baper. Kalian sendiri yang tau dan ngerasain. Kalo aku sih level nya 11, 14  sama. Hehehehe...
   Bagus sih kalo kita sering-sering sakit, apalagi kalo sakit hati. Semakin ngelatih dan nguatin mental kita buat gak cepet down ngadapin masalah yang mendadak muncul di hadapan. Tapi sering sakit hati itu gak bagus juga. Bisa-bisa hal buruk yang malah ngehancurin diri kita.
   Nah, ngomongin masalah baper, ini bisa tentang baper apa aja. Baper cinta, baper sedih, atau baper senang.  Gimana sih ciri-ciri orang yang baperan, atau jangan-jangan kita sendiri yang termasuk ke dalam golongan orang-orang baper. Cuman diri kita yang tahu.
   Buat aku, baper itu identik sama lubang hidung. Kadang-kadang nih, kalo pas ketemu cewe cantik atau disenyumin orang yang aku taksir, gak sadar bahwa hidung aku lagi kembang kempis. Serius. Kalo kalian sendiri gimana? Ada perubahan khusus yang terjadi sama kalian kalo lagi baper? Atau kalian biasa-biasa aja.
   Kurang baik ya kalo kaya gitu. Ada lagi nih baper yang menurut gue sangat gak baik. Dan mohon maaf, gue juga pernah ngelakuinnya. Hayo tebak, apaan? Yaps benar. Baper tersinggung. Pernah gak nemuin orang atau bahkan temen deket kalian yang mudah marah atau cepet banget emosian pada hal-hal kecil.
   Dikit-dikit marah, dikit-dikit marah. Sering banget marah, dan kalo marah juga ngeri banget. Hayo, siapa yo? Aku banget gitu ya. Hehehehe...., gak usah nunjuk orang, mending kita intropeksi diri aja. Berusaha buat ngerubah dan memperbaiki diri lebih baik lagi, seraya berdoa dan berharap sama Tuhan.
   Kurangin bapernya, kalo bisa bahkan dihilangin ya. Jangan terus menerus terjebak dalam lubang rasa standar manusia. Karena sejatinya hati kita ini milik yang Maha Empunya dan Maha Kuasa. Beneran deh.
   Sekian blog edisi hari ini ya, tetap setia nunggu dan nantikan blog-blog selanjutnya. Terima kasih buat kawan-kawan yang udah membacanya. Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus Memberkati.

Continue reading Day 35 ( Baper..., dikurangin bahkan dihilangin)